Semut, Laba-laba dan Lebah

Tiga serangga kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran, yaitu semut (An-Naml), laba-laba (Al-Ankabut), dan lebah (An-Nahl).

Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun, sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha-dan seringkali berhasil- memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.

Dalam surah An-Naml antara lain diuraikan sikap Fir’aun, juga Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun sebelum dan sesudahnya.

Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba : Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh, ia bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana akan disergapnya dan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya, dibinasakan hingga musnah oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.

Lain halnya lebah, memiliki insting yang dalam bahasa Al-Quran – ” atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” (QS 16 : 68), dan sarangnya dibuat berbentuk segi enam, bukannya segi empat atau segi lima agar tidak terjadi pemborosan tempat. Yang dimakannya adalah bunga-bunga dan tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkarkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali yang mengganggunya, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia yang “berbudaya semut”, yaitu menghimpun dan menumpuk materi tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya. Ada juga manusia yang “berbudaya laba-laba”, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah “siapa yang akan mereka jadikan mangsa.”

Nabi Muhammad saw. mengibaratkan seorang Mu’min sebagai lebah, Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat, dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.

Mampukan kita menjadi ibarat lebah…bukan semut apalagi laba-laba?

Semoga Allah swt. memberikan TaufiqNya kepada kita, Amin.

Satu Tanggapan

  1. no comment…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: